1001 Masjid, adalah sebuah komunitas dan jaringan sosial (non-komersial), yang mewadahi berhimpunnya orang-orang yang berkhidmad dan mendedikasikan diri pada pengajaran Al-Quran dan "menghidupkan" masjid-masjid.
---
Kegiatan-kegiatan komunitas ini fokus pada pemberdayaan masyarakat berbasis masjid, serta membangun jaringan antar masjid & pengajian.
---
Dengan berfokus dan berbasis pd masjid & pengajian, Komunitas 1001 Masjid diharapkan dapat menjadi jaringan sosial yg efektif dlm kegiatan-kegiatan sosialisasi dan pemberdayaan masyarakat.

Tsaqifa (Ust. Umar Taqwim)

Metode Membaca al-Qur’an Harus Sesuai Zaman

Kecintaan kaum muslimin kepada al-Qur’an tak lekang oleh jaman. Metode cara belajar membaca al-Qur’an pun silih berganti sepanjang masa. Sesuai tuntutan jaman, Metode cara membaca al-Qur’an pun disesuaikan.
Bagi anak-anak bisa sambil bermain. Bagi ibu-ibu rumahtangga bisa bergiliran dari rumah ke rumah seperti arisan. Terus bagaimana untuk bapak-bapak yang sibuk?

------------------------------

------------------------------
Seperti pengakuan Umar Takwim, metode Tsaqifa hadir setelah lewat pengalaman di lapangan, bahwa mengajarkan al-Qur’an untuk orang dewasa ada kendala tersendiri. Karena itu lahirlah metode Tsaqifa.

Menurut Umar, kecintaan kepada al-Quran pada saat ini mulai berkurang karena orang-orang lebih banyak mendengarkan musik, olahraga maupun hal-hal lainnya yang bisa mengalihkan perhatian mereka dari al-Quran. Untuk itulah, dirinya mengajak agar umat Islam mencintai al-Quran. Karena al-Quran dapat membuat kita menjadi benar. “Allah akan memuliakan kaum muslimin dengan al-Quran, tapi ia juga akan menjatuhkan kaum muslimin dengan al-Quran.

Berikut petikan wawancara Eman Mulyatman dari Sabili dengan penemu metode Tsaqifa, Umar Takwim:

Bagaimana ceritanya sampai Anda menemukan metode Tsaqifa?
Menemukan metode Tsaqifa ini boleh dibilang tidak sengaja alias tidak ada niat untuk mengeluarkan metode ini. Saya dulunya pengajar al-Quran di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) di Jakarta dan Bekasi. Di Bekasi mengajar di daerah Pondok Gede Permai, Jati Asih dan Vila Nusa Indah. Kalau untuk anak-anak tidak ada masalah. Masalah timbul ketika ada orang dewasa belajar membaca al-Qur’an.

Kenapa begitu?
Waktu itu saya mengajar memakai metode dari Jogja, Menurut saya, metode itu tidak bisa memenuhi keinginan mereka (para orang dewasa). Karena mereka hanya punya waktu paling Sabtu dan Ahad. Sepekan hanya punya waktu satu atau dua kali saja. Saya pun, mencari solusi mencari metode belajar lebih cepat selain metode tadi.

Jadi kreatif dong?
Iya. Saat menggunakan metode itu, ketika orang dewasa mengaji ada anaknya yang sudah jilid lima. Sedangkan Bapaknya baru jilid satu.
Bapaknya merasa malu. Akhirnya, tidak konsentrasi belajar karena perasaan malu ini. Inilah yang menyebabkan metode Tsaqifa ini muncul. Sedangkan metode dari Jogja tadi, menurut saya cocok untuk anak-anak.

Sebagai perbandingan dari mana lagi?
Untuk mencari solusi bagaimana mengajarkan mengaji untuk bapak-bapak, Saya mempelajari metode yang ada, yaitu al-Barqi. Pelatihan metode baru lainnya juga saya ikuti. Tapi, saat itu belum ada keinginan bagi saya membuat metode sendiri. Ketika saya menerapkan metode –metode itu di lapangan, tidak sesuai dengan harapan saya. Akhirnya, saya menemukan metode ini (Tsaqifa) agar lebih mudah. Dengan baca basmallah, Saya membuat buku ini, karena melihat kaum muslimin banyak yang tidak bisa mengaji.

Kenapa dinamakan Tasqifa?
Tsaqifa dari Tsaqofa, lalu saya ambil sederhananya jadi Tsaqifa. Harapan saya, orang yang belajar Tsaqifa bisa memaksimalkan otak kiri dan otak kanannya. Bisa memahaminya dengan mudah.

Otak kiri-otak kanan, maksudnya?
Saya merumuskan metode ini setelah mempelajari metode-metode yang ada. Metode ini tidak di fokuskan untuk segala usia. Metode ini khusus untuk orang dewasa. Artinya, untuk anak-anak metode sekarang sudah baik, yaitu metode IQRA dan QIRAATI. Namun, untuk kalangan dewasa, belum banyak metodenya. Metode Tsaqifa ini, saya khususkan bagi orang dewasa.

Hasilnya bagaimana?
Saya pun ikut terjun memahami tipe-tipe orang yang ada, karena kemampuan seseorang berbeda-beda. Dari proses memahami itulah, disimpulkan untuk mengaji cukup lima kali pertemuan, Insya Allah bisa membaca. Metode lima kali pertemuan adalah bisa membaca secara jelas, dan metode ini sudah terbukti, Alhamdullilah bukunya sudah cetak ulang.
Poin yang penting untuk mempelajari metode ini, yaitu Kemampuan orang yang mau belajar..
Saya ingin mengajarkan kepada semua orang yang belum bisa baca Al-Quran untuk bisa membaca al-Qur’an.

Apa kendalanya?
Kendala untuk mempromosikan buku ini, yaitu masalah belum menguasai pasar diluar daerah. Kesuksesan metode ini telah teruji, sebagai contoh ada seseorang yang mulai belajar dari nol, kemudian setelah dua bulan ia dapat khatam al-Quran. Karena orang dewasa Ketika sudah dapat membaca al-Quran ada perasaan ingin selalu membaca al-Quran, sehingga ia dapat mengkhatamkan al-Quran.


Biodata NaraSumber
Nama : Umar Takwin, TTL : Bojonegoro, 1971, Status:Menikah Anak : Empat
http://sabili.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=197:ustadz-umar-takwin-penggagas-metode-tsaqifa&catid=83:wawancara&Itemid=200

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar